Sebuah Perpisahan
Maaf, dan
Terima Kasih
Tidak semua cerita berakhir seperti yang kita harapkan —
tapi setiap cerita tetap layak untuk dihargai.
Aku tahu ini mungkin terasa tiba-tiba bagi kita — mungkin juga tidak. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan sebelum kita benar-benar melangkah ke jalan masing-masing.
Maaf kalau aku pernah membuatmu merasa tidak nyaman, tidak didengar, atau tidak dihargai. Mungkin ada hal-hal yang aku lakukan atau tidak aku lakukan — yang tanpa kusadari, menyakitimu.
Aku tidak menyalahkanmu atas keputusanmu. Kamu berhak memilih apa yang terbaik untuk dirimu sendiri. Dan meskipun ini terasa berat bagiku, aku menghormati pilihanmu — sepenuhnya.
Yang ingin aku kamu tahu adalah: waktu yang kita punya bersama, sekecil apapun itu, telah memberiku banyak hal. Kamu mengajariku tentang keberanian untuk merasa, tentang betapa indahnya bisa menyukai seseorang, tentang berapa indahnya bisa .
Jadi, bukan dengan rasa marah, bukan dengan rasa kecewa yang ingin aku akhiri ini — tapi dengan rasa syukur. Terima kasih sudah pernah hadir, meski sebentar.
Mungkin ini adalah pesan terakhir yang benar-benar jujur dariku. Aku menulis ini bukan untuk menahanmu, tapi untuk melepaskan segala beban yang selama ini aku simpan sendiri. Sejak awal, aku tahu kita melangkah di atas perbedaan yang nyata . Ada tembok besar (AGAMA) yang coba kita abaikan, namun akhirnya kita harus sadar bahwa Tuhan punya cara tersendiri untuk menunjukkan arah yang berbeda.
Kamu bilang aku terlalu baik untukmu . Jujur, itu adalah kalimat yang paling sulit untuk kuterima. Bagiku, tidak ada kata "terlalu baik" saat aku hanya mencoba memberikan seluruh hatiku sebaik mungkin. Tapi aku mengerti, mungkin itu adalah caramu untuk melindungiku, atau mungkin caramu untuk melepaskanku agar aku bisa menemukan kebahagiaan yang tidak bisa kamu berikan.
Aku minta maaf jika selama ini aku keras kepala untuk memulai sesuatu yang sejak awal sudah memiliki "pertanda" sulit. Aku sadar akan segala konsekuensi dan rasa sedih yang kini harus "KITA" tanggung sendiri. Namun, aku tidak ingin kamu merasa terbebani. Aku sudah memaafkan segalanya—termasuk diriku sendiri atas keputusan-keputusan yang kita lalui.
Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Waktu yang kita lalui, sesingkat apapun itu, telah mengajariku banyak hal tentang arti pengorbanan dan keikhlasan. Kamu pernah menjadi alasan di balik senyumku, dan aku akan selalu menghargai memori itu.
Sekarang, melangkahlah dengan tenang. Jangan ada lagi rasa bersalah yang menghantuimu. Aku akan belajar untuk baik-baik saja, dan aku berdoa agar kamu menemukan cahaya di jalan yang kamu pilih. Terima kasih sudah sempat mampir, meski hanya untuk menjadi kenangan.
Yang Akan Selalu Kuingat